Berita Utama Nasional Pemerintahan
Beranda / Pemerintahan / Berbeda Dari Muhamadiyah, Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 2026 Mulai Kamis Besok

Berbeda Dari Muhamadiyah, Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 2026 Mulai Kamis Besok

whatsapp image 2026 02 18 at 22.13.36
Hasil sidang isbat Mentri Agama sumber : Channel Bimas TV

Jejakabar.com Jakarta – Pemerintah resmi menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan ini diumumkan melalui Sidang Isbat yang digelar Kementerian Agama (Kemenag) di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (17/2/2026).

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan, penetapan tersebut merupakan hasil kesepakatan bersama setelah melalui serangkaian proses ilmiah dan pengamatan langsung.

“Disepakati bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026. Demikian hasil Sidang Isbat yang baru kita laksanakan,” ujarnya dalam konferensi pers.

Penetapan ini tidak terlepas dari metode yang digunakan Kemenag, yaitu integrasi hisab dan rukyat dengan mengacu pada kriteria MABIMS. Kriteria ini mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat sebagai batas visibilitas bulan baru.

Sebelum pengumuman, tim hisab rukyat Kemenag terlebih dahulu memaparkan data posisi hilal secara astronomis. Selanjutnya, dilakukan verifikasi laporan dari puluhan titik pemantauan hilal yang tersebar di seluruh Indonesia. Baru setelah itu, musyawarah digelar bersama para pihak yang hadir.

Bahlil Imbau Warga Kurangi Konsumsi Energi Secara Berlebihan

Dalam sidang isbat turut dihadiri sejumlah perwakilan ormas Islam, MUI, BMKG, BRIN, hingga Observatorium Bosscha. Kehadiran lintas lembaga ini menjadi bagian dari upaya menjaga transparansi dan akuntabilitas hasil keputusan.

Meski pemerintah telah menetapkan secara resmi, potensi perbedaan awal Ramadan dengan organisasi kemasyarakatan Islam tetap mengemuka. Muhammadiyah lebih awal mengumumkan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Muhamadiyah menggunakan metode hisab hakiki dalam perhitungannya, yang tidak mensyaratkan observasi hilal secara langsung.

Perbedaan metode dan kriteria inilah yang kembali mewarnai awal Ramadan tahun 2026, sebagaimana kerap terjadi di tahun-tahun sebelumnya. Masyarakat pun diimbau tetap menjaga toleransi dan menghormati perbedaan yang ada. (Admin)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *