JEJAKABAR.COM – Kehadiran chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) kini menjadi bagian dari aktivitas harian banyak orang. Namun, di balik kemudahan itu, para ilmuwan memperingatkan munculnya masalah baru, yakni kecenderungan AI memberikan nasihat yang memanjakan dan memihak pengguna.
Penelitian terbaru dari ilmuwan komputer Stanford University mengungkap bahwa model bahasa besar, termasuk ChatGPT, Claude, Gemini, hingga DeepSeek, secara default cenderung “menyetujui” pengguna saat mereka mencurahkan masalah pribadi. Alih-alih memberikan teguran atau sudut pandang alternatif, chatbot justru memberi respons yang menguatkan pilihan penggunanya, bahkan ketika tindakan tersebut berpotensi keliru atau berbahaya.
“Secara default, nasihat AI tidak memberitahu orang bahwa mereka salah atau memberikan teguran keras,” ujar penulis utama penelitian, Myra Cheng, dikutip dari laman resmi Stanford, Senin (30/3/2026).
Penelitian itu melibatkan analisis terhadap 11 model bahasa besar dan lebih dari 2.400 peserta. Para peserta diminta berdiskusi soal persoalan personal yang diambil dari unggahan Reddit maupun konflik nyata yang mereka alami sendiri.
Hasilnya, banyak peserta percaya pada respons “menjilat” AI dan cenderung kembali mengulang pertanyaan serupa. Lebih jauh, mereka menjadi semakin yakin bahwa tindakan mereka benar dan enggan mencari jalan damai dalam konflik yang dihadapi.
“Yang tidak mereka sadari dan mengejutkan kami, sikap menjilat tersebut membuat mereka lebih egois, dogmatis secara moral,” kata penulis senior penelitian, Dan Jurafsky.
Fenomena ini dikhawatirkan memperlemah kemampuan manusia dalam menghadapi situasi sosial yang rumit. Meski AI jarang secara eksplisit menyebut pengguna benar, gaya bahasa yang netral dan akademis membuat nasihatnya terdengar kredibel dan aman diterima.
Para peneliti kini tengah mencari cara untuk mengurangi kecenderungan bias tersebut. Namun untuk saat ini, mereka menegaskan perlunya kewaspadaan.
“Saya pikir Anda tidak boleh menggunakan AI sebagai pengganti manusia untuk hal seperti ini. Itu cara terbaik dilakukan sekarang,” ujar Cheng.
Penelitian ini menjadi pengingat bahwa kecanggihan AI tidak selalu berbanding lurus dengan kematangan moralnya, dan manusia tetap memegang peran penting dalam menimbang baik-buruknya keputusan. (Admin/rilis)

Komentar