Daerah Editorial Pemerintah Provinsi Pemerintahan
Beranda / Pemerintahan / Menu Bergizi Tak Laku? Sisa Makanan Anak Jadi Alarm Keras Evaluasi MBG

Menu Bergizi Tak Laku? Sisa Makanan Anak Jadi Alarm Keras Evaluasi MBG

img 20260131 wa0010
Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie saat minat langsung proses pemorsian dan sajian ompreng yang akan didistribusikan di sekolah sekolah pada Sidak SPPG di Kabupaten Gorontalo. JEJAKABAR- Diskominfotik Provinsi Gorontalo.

Jejakabar.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak lagi hanya berbicara soal kandungan nutrisi, tetapi juga soal selera anak didik. Sisa makanan di piring siswa kini menjadi “alarm keras” untuk mengevaluasi menu yang disajikan setiap hari.

Wakil Gubernur Gorontalo, Idah Syahidah Rusli Habibie, menegaskan bahwa evaluasi menu harus dilakukan secara intensif oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia menilai, makanan bergizi tidak akan memberi dampak maksimal jika tidak dihabiskan oleh anak-anak.

“Evaluasi menu MBG sangat penting, khususnya melalui pencatatan dan penimbangan sisa makanan anak,” ujarnya saat melakukan inspeksi mendadak di sejumlah SPPG di Kabupaten Gorontalo, Sabtu.

Menurutnya, setiap SPPG wajib memiliki timbangan yang dimanfaatkan secara optimal sebagai instrumen evaluasi. Setelah makanan dikonsumsi dan wadah makanan (ompreng) dikembalikan dari sekolah ke SPPG, sisa nasi, lauk, maupun sayur harus ditimbang.

Data penimbangan tersebut kemudian dibandingkan dengan hari sebelumnya. Jika jumlah sisa makanan meningkat, hal itu menjadi indikasi bahwa menu yang disajikan kurang diminati anak-anak.

Bahlil Imbau Warga Kurangi Konsumsi Energi Secara Berlebihan

“Hasilnya jadi bahan evaluasi. Menu yang kurang disukai tidak perlu diulang, bisa segera diganti dengan yang lebih sesuai,” jelasnya.

Ia menegaskan, mekanisme ini bukan sekadar formalitas, tetapi harus benar-benar diterapkan dan terus diperbaiki agar kualitas layanan SPPG meningkat. Targetnya jelas: makanan yang disajikan bukan hanya memenuhi standar gizi, tetapi juga disukai peserta didik sehingga benar-benar dikonsumsi.

Selain untuk evaluasi menu, penggunaan timbangan juga dinilai penting dalam pengelolaan limbah makanan. Dengan mengetahui jumlah sisa makanan, potensi sampah makanan (food waste) bisa ditekan agar tidak mencemari lingkungan.

Dalam peninjauan tersebut, beberapa SPPG diketahui melayani lebih dari seribu paket MBG per hari untuk sekolah-sekolah di sekitar wilayah layanan, termasuk Sekolah Satu Atap di Kecamatan Asparaga.

Melalui evaluasi berbasis sisa makanan ini, diharapkan program MBG tidak hanya sukses di atas kertas, tetapi benar-benar efektif memenuhi kebutuhan gizi anak sekaligus sesuai dengan selera mereka.

19 Ribu Rumah Direhab di Sumut, Benarkah Semua Gratis? Ini Penjelasan PKP

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *