TEHERAN, JEJAKABAR.COM – Iran resmi menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru pada Senin (9/3/2026), menggantikan ayahnya Ali Khamenei yang sebelumnya memimpin negara tersebut selama puluhan tahun.
Penunjukan tersebut diumumkan oleh Assembly of Experts atau Majelis Ahli, lembaga yang memiliki kewenangan memilih Pemimpin Tertinggi di Iran.
“Dengan suara yang menentukan, Majelis Ahli menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin ketiga sistem suci Republik Islam Iran,” demikian pernyataan majelis yang dirilis tepat setelah tengah malam waktu Teheran, dikutip dari AFP.
Mojtaba dikenal sebagai ulama tingkat menengah yang selama ini memiliki pengaruh kuat di lingkaran kekuasaan Iran, termasuk dalam jaringan keamanan negara serta sejumlah jaringan bisnis yang berkembang di bawah kepemimpinan ayahnya.
Dengan penunjukan tersebut, Mojtaba kini memegang kewenangan tertinggi dalam seluruh urusan negara Iran, mulai dari politik, militer, hingga kebijakan strategis nasional.
Ketegangan dengan AS dan Israel
Majelis Ahli dalam pernyataannya juga menegaskan bahwa Iran tidak ragu sedikit pun dalam menentukan pemimpin baru meskipun negara itu tengah menghadapi tekanan dan konflik dengan Amerika Serikat serta Israel.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump sempat mengomentari kemungkinan pengangkatan Mojtaba sebagai pemimpin baru Iran. Ia menyebut Mojtaba sebagai tokoh yang tidak memiliki pengaruh besar.
Trump bahkan menyatakan bahwa Amerika Serikat harus memiliki suara dalam proses penunjukan tersebut.
“Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” kata Trump kepada ABC News sebelum pengumuman resmi dilakukan.
Selamat dari Serangan Udara
Beberapa hari sebelum pengumuman tersebut, Mojtaba dilaporkan selamat dari serangan udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.
Dua sumber Iran mengatakan kepada Reuters pada Rabu (4/3/2026) bahwa Mojtaba tidak berada di ibu kota saat serangan terjadi.
“Dia masih hidup. Dia tidak berada di Teheran ketika Pemimpin Tertinggi terbunuh,” kata salah satu sumber tersebut.
Selama ini, Mojtaba memang telah lama disebut sebagai salah satu kandidat kuat penerus ayahnya dalam memimpin Iran.
Mekanisme Pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran

Dilansir Al Jazeera, pemimpin tertinggi Iran tidak dipilih secara langsung oleh rakyat, melainkan melalui Majelis Ahli.
Badan tersebut terdiri dari 88 ulama senior yang dipilih masyarakat setiap delapan tahun sekali. Namun, setiap calon anggota Majelis Ahli harus lebih dulu mendapatkan persetujuan dari Guardian Council atau Dewan Penjaga.
Dewan tersebut merupakan lembaga pengawas yang sebagian anggotanya ditunjuk langsung oleh Pemimpin Tertinggi Iran.
Apabila jabatan Pemimpin Tertinggi kosong karena kematian atau pengunduran diri, Majelis Ahli akan segera menggelar pemungutan suara untuk menentukan pengganti.
Sesuai konstitusi Iran, calon pemimpin tertinggi harus merupakan ahli hukum Islam senior yang memiliki pemahaman mendalam mengenai yurisprudensi dalam Islam Syiah, serta memiliki kemampuan politik, keberanian, dan kapasitas administrasi.
Sebelumnya, peralihan kekuasaan di jabatan pemimpin tertinggi Iran hanya pernah terjadi satu kali, yakni ketika Ruhollah Khomeini, pemimpin Iranian Revolution, meninggal dunia pada 1989 dan digantikan oleh Ali Khamenei. (Admin/rilis)

Komentar