JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (18/2/2026). Pelemahan mata uang Garuda ini dipengaruhi sentimen domestik dan global yang masih membayangi pergerakan pasar keuangan.
Dikutip dari CNBC Indonesia, rupiah ditutup di posisi Rp16.875 per dolar AS atau terdepresiasi 0,30%. Posisi tersebut menjadi level terlemah sejak 22 Januari 2026, atau dalam kurun waktu lebih dari tiga pekan terakhir.
Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak pada rentang Rp16.820 hingga Rp16.892 per dolar AS. Pada awal sesi, rupiah sempat dibuka menguat tipis 0,03% di level Rp16.820 per dolar AS, namun kemudian berbalik melemah hingga penutupan pasar.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) tercatat menguat 0,14% ke level 97,295 pada pukul 15.00 WIB, menandakan penguatan mata uang dolar di pasar global.
Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung selama dua hari. Kebijakan suku bunga acuan dinilai menjadi faktor penting yang memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah.
Sebelumnya, Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan sebanyak lima kali sepanjang 2025. Namun pada Januari 2026, bank sentral memutuskan menahan suku bunga di level 4,75 persen. Pasar memperkirakan kebijakan tersebut berpotensi kembali dipertahankan dalam RDG kali ini.
Selain suku bunga, investor juga mencermati arah kebijakan stabilisasi nilai tukar, termasuk langkah intervensi Bank Indonesia di tengah potensi arus keluar modal asing setelah gejolak pasar pada akhir Januari lalu.
Di sisi lain, pelaku pasar turut menyoroti transmisi pelonggaran suku bunga ke sektor riil yang dinilai belum optimal. Penurunan suku bunga acuan belum sepenuhnya diikuti penurunan suku bunga kredit, sehingga ekspansi pembiayaan masih terbatas.
Dari faktor eksternal, pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian geopolitik global, termasuk perkembangan pembicaraan nuklir antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut mendorong investor mencari aset aman seperti dolar AS dan surat utang pemerintah AS.
Situasi ini membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berada di bawah tekanan seiring penguatan dolar di pasar internasional.
Analis menilai pergerakan rupiah ke depan masih akan dipengaruhi hasil kebijakan Bank Indonesia serta perkembangan ekonomi dan geopolitik global yang berpotensi memicu volatilitas pasar keuangan. (Admin/Rilis)

Komentar