JEJAKABAR.COM POHUWATO – Warga Pohuwato soroti minimnya pengawasan satpol PP terhadap maraknya penyakit sosial selama ramadan, mulai dari dugaan open BO hingga minuman keras (Miras). Kondisi ini memicu keprihatinan masyarakat sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pengawasan pemerintah daerah, khususnya aparat penegak peraturan daerah.
Sejumlah praktik yang dinilai meresahkan disebut-sebut semakin marak terjadi. Mulai dari dugaan layanan Open BO di beberapa penginapan, pesta minuman keras, hingga aksi balap liar yang dilaporkan berlangsung hampir setiap malam di beberapa titik.
Fenomena tersebut kini menjadi perbincangan luas di tengah masyarakat. Banyak warga menilai lemahnya pengawasan di lapangan membuat berbagai aktivitas yang diduga melanggar aturan semakin berani dilakukan secara terbuka.
Salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan, belakangan ini masyarakat mulai mempertanyakan keberadaan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dalam menjalankan tugas pengawasan di lapangan.
“Sekarang masyarakat bertanya-tanya, ada apa dengan Satpol PP. Kegiatan di lapangan hampir tidak terlihat lagi, seolah-olah tidak ada aktivitas pengawasan,” ungkapnya, Kamis (12/3/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya berbagai aktivitas yang dinilai melanggar ketertiban umum. Salah satu yang disoroti adalah masih adanya rumah makan yang tetap melayani makan di tempat pada siang hari selama Ramadhan.
Padahal, sebelumnya pemerintah daerah telah mengeluarkan imbauan agar aktivitas makan di tempat pada siang hari dibatasi sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa.
Selain itu, sejumlah rumah kos, hotel, serta penginapan juga diduga menjadi lokasi praktik Open BO. Bahkan, beberapa titik lain seperti kawasan blok plan yang berada di area perkantoran pemerintah disebut sering dijadikan tempat berkumpul oleh anak-anak muda.
“Di sana sering terjadi pesta miras, ada juga yang menghirup lem fox, menggunakan obat-obatan, bahkan pasangan bukan muhrim terlihat bercumbu di tempat-tempat gelap di sekitar wilayah perkantoran,” ujarnya.
Tidak hanya itu, kawasan blok plan juga disebut kerap dimanfaatkan sebagai arena balap liar oleh para pemuda. Aktivitas tersebut bahkan dilaporkan berlangsung hampir setiap malam dan bukan hanya terjadi selama bulan Ramadhan.
“Hal-hal seperti ini sudah banyak dikeluhkan masyarakat. Bahkan ada yang sudah melaporkannya ke Satpol PP, tapi sampai sekarang belum ada tindakan nyata,” katanya.
Ia juga menjelaskan, dugaan keterbatasan anggaran tidak seharusnya menjadi alasan bagi aparat untuk mengurangi pengawasan. Menurutnya, Satpol PP tetap harus mampu menghadirkan inovasi dalam menjalankan tugas sebagai penegak Perda dan penjaga ketertiban umum.
“Efisiensi anggaran jangan dijadikan alasan. Satpol PP harus tetap bekerja maksimal karena tugas mereka juga bagian dari Standar Pelayanan Minimal,” tegasnya.
Masyarakat pun berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah serius untuk menertibkan berbagai aktivitas yang dinilai meresahkan tersebut, sehingga ketertiban dan norma sosial di Kabupaten Pohuwato dapat kembali terjaga.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak kami masih berupaya menghubungi Kepala Satpol PP Kabupaten Pohuwato, Nikson Pakaya, guna meminta tanggapan terkait berbagai keluhan masyarakat tersebut. Namun, upaya konfirmasi melalui pesan maupun panggilan telepon via aplikasi WhatsApp belum mendapat respons.

Komentar