JEJAKABAR.COM, LOS ANGELES – Dua raksasa teknologi dunia, Meta dan YouTube, kini menjadi sorotan setelah juri di Los Angeles menyatakan keduanya bertanggung jawab atas desain produk yang bersifat adiktif dan berdampak buruk terhadap kesehatan mental anak dan remaja. Putusan ini menjadi salah satu langkah hukum pertama yang secara langsung menyoroti bagaimana media sosial memengaruhi generasi muda.
Seorang penggugat berinisial KGM, menjadi pusat perhatian kasus ini. Ia mengaku mulai kecanduan YouTube sejak usia enam tahun dan kemudian terjerat penggunaan Instagram pada usia sembilan tahun. Ketergantungan sejak dini itu disebut memicu depresi, gangguan citra tubuh, hingga perilaku menyakiti diri sendiri.
Desain Fitur Dinilai Sengaja Ciptakan Kecanduan
Dalam persidangan, juri menyoroti bahwa platform Meta dan YouTube menggunakan fitur-fitur yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna, seperti autoplay dan infinite scroll. Fitur ini membuat pengguna terus menonton tanpa sadar telah menghabiskan waktu berjam-jam.
Pengacara KGM, Mark Lanier, menyebut strategi desain tersebut sebagai “rekayasa kecanduan”.
“Bagaimana membuat seorang anak tidak pernah menaruh ponselnya? Itulah rekayasa kecanduan. Mereka merancang fitur-fitur itu dengan sengaja,” tegas Lanier seperti dikutip dari The Guardian.
Lanier bahkan mengibaratkan platform digital sebagai “kuda Troya”: tampak menyenangkan, tetapi diam-diam menimbulkan dampak serius pada psikologi pengguna, terutama remaja.
Dampak Kesehatan Mental: Dari Depresi hingga Gangguan Sosial
KGM mengungkapkan bahwa ia mulai mengalami depresi pada usia 10 tahun, kemudian didiagnosis mengalami gangguan dismorfik tubuh dan fobia sosial di usia 13 tahun. Tekanan sosial, standar kecantikan yang tidak realistis, dan paparan konten tanpa batas dianggap menjadi pemicu utama.
Kasus KGM disebut sebagai gambaran dari ribuan remaja lain yang mengalami dampak serupa akibat penggunaan media sosial tanpa kontrol.
Perusahaan Dinilai Tahu Risiko, Tapi Minim Peringatan
Juri menyimpulkan bahwa Meta dan YouTube mengetahui potensi bahaya dari desain produk mereka, namun tidak memberikan peringatan atau edukasi yang memadai kepada pengguna, terutama anak dan remaja.
Kasus ini bahkan dibandingkan dengan skandal industri rokok tahun 1990-an, ketika perusahaan diketahui menyembunyikan sifat adiktif produknya dari publik.
Meski demikian, Meta dan YouTube membantah tuduhan tersebut. Mereka berpendapat bahwa kesehatan mental remaja merupakan isu kompleks yang tidak disebabkan oleh satu faktor saja, dan mengklaim telah mengembangkan berbagai fitur perlindungan bagi pengguna muda.
Gelombang Gugatan yang Lebih Besar
Putusan ini menjadi awal dari gelombang besar tuntutan hukum terhadap perusahaan media sosial. Ada lebih dari 1.600 penggugat, termasuk keluarga dan institusi pendidikan, yang menuntut perusahaan teknologi atas dampak psikologis platform mereka.
Ke depan, kasus ini diprediksi akan memperketat tekanan publik terhadap transparansi desain produk, perlindungan anak, dan regulasi terhadap media sosial.
Putusan Los Angeles bukan hanya menjadi alarm bagi Meta dan YouTube, tetapi juga membuka diskusi luas terkait sejauh mana perusahaan teknologi bertanggung jawab atas dampak sosial dan mental dari produk yang mereka ciptakan. (admin/rilis)

Komentar