Jejakabar.com, Gorontalo — Aksi demonstrasi yang digelar sejumlah aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Badko Sulutgo, Aliansi Mahasiswa Paguyaman Raya Gorontalo (AMPKPRG), serta beberapa mahasiswa Gorontalo di kawasan perempatan Rumah Dinas Gubernur Gorontalo berujung ricuh, Jumat (9/5/2026).
Aksi yang berlangsung bertepatan dengan kunjungan Presiden Prabowo Subianto itu dimulai sekitar pukul 15.00 WITA. Namun, situasi memanas setelah aparat disebut melakukan pembubaran paksa terhadap massa aksi sebelum penyampaian aspirasi berlangsung sepenuhnya.
Koordinator lapangan, Syawal Madinah, mengungkapkan bahwa para demonstran baru beberapa menit melakukan orasi ketika aparat langsung melakukan pengamanan secara paksa terhadap peserta aksi.
“Baru sekitar lima menit kami orasi, tiba-tiba langsung diamankan secara paksa. Ini jelas bentuk pembungkaman terhadap suara rakyat,” ujar Syawal.
Akibat insiden tersebut, sejumlah kader HMI dan AMPKPRG dilaporkan mengalami tindakan kekerasan fisik. Beberapa peserta aksi juga disebut telah diamankan dan dibawa ke Polres Gorontalo Kota.
Dalam demonstrasi itu, massa membawa sejumlah tuntutan, mulai dari mendesak pencopotan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), penghentian Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dianggap bermasalah dan merugikan masyarakat, hingga menyuarakan berbagai isu nasional maupun daerah yang dinilai penting bagi masyarakat Gorontalo.
Para aktivis menilai kunjungan kepala negara seharusnya menjadi ruang bagi rakyat untuk menyampaikan aspirasi secara terbuka, bukan justru diwarnai tindakan represif terhadap massa aksi.
Ketua Badan Koordinasi (Badko) HMI Sulawesi Utara-Gorontalo, Aris Setiawan Karim, turut mengecam tindakan aparat yang dinilai berlebihan dalam menangani demonstrasi tersebut.
“Kami mengecam keras segala bentuk tindakan kekerasan dan pembubaran paksa yang dialami kader-kader kami. Ini bukan hanya pelanggaran terhadap hak bersuara, ini adalah penghinaan terhadap demokrasi. Negara tidak boleh menjadi ancaman bagi rakyatnya sendiri yang sedang menyampaikan aspirasi secara damai,” tegas Aris Setiawan Karim.
Badko HMI Sulutgo menyatakan akan terus mengawal perkembangan kasus tersebut dan mendesak aparat terkait memberikan penjelasan resmi atas tindakan yang terjadi di lapangan. Mereka juga meminta seluruh aktivis yang diamankan segera dibebaskan tanpa syarat serta dipastikan dalam kondisi baik.

Komentar