JEJAKABAR.COM – Kasus hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan munculnya klaster infeksi yang berkaitan dengan kapal pesiar MV Hondius pada awal Mei 2026. Informasi ini dirilis dari Beritasatu.com.
Laporan tersebut memicu peningkatan pengawasan kesehatan di berbagai negara karena penumpang kapal diketahui berasal dari sejumlah wilayah dunia. Otoritas kesehatan internasional kini melakukan pelacakan terhadap penumpang dan kru kapal yang sempat melakukan perjalanan lintas negara sebelum kasus dikonfirmasi.
Meski demikian, WHO menegaskan bahwa hantavirus tidak memiliki pola penyebaran seperti pandemi Covid-19. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut risiko hantavirus terhadap kesehatan publik global saat ini masih tergolong rendah.
Hantavirus sendiri merupakan kelompok virus zoonosis yang ditularkan melalui tikus dan hewan pengerat lainnya. Virus ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan serius hingga hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS), penyakit yang menyerang ginjal dan pembuluh darah.
Berikut empat negara Asia yang tercatat memiliki paparan dan pengawasan tinggi terhadap hantavirus:
China
China menjadi salah satu negara dengan jumlah kasus hantavirus terbesar di dunia. Berdasarkan penelitian epidemiologi yang dipublikasikan melalui PubMed, sekitar 90 persen kasus HFRS global selama beberapa dekade terakhir berasal dari negara tersebut.
Kasus banyak ditemukan di wilayah pedesaan bagian utara dan timur laut yang memiliki populasi tikus tinggi. Jenis virus yang dominan adalah Hantaan virus dan Seoul virus, yang dikenal sebagai penyebab utama HFRS di Asia.
China juga memiliki sistem pengawasan nasional terhadap hantavirus karena penyakit ini telah lama menjadi masalah kesehatan masyarakat. Ribuan kasus HFRS pernah dilaporkan setiap tahun, meskipun angka kematian terus menurun berkat vaksinasi dan peningkatan sanitasi.
Korea Selatan
Korea Selatan memiliki kaitan historis dengan hantavirus karena virus Hantaan pertama kali diidentifikasi di dekat Sungai Hantan pada era 1970-an. Nama hantavirus sendiri berasal dari wilayah tersebut.
Negara ini masih melaporkan ratusan kasus HFRS setiap tahun, terutama yang berkaitan dengan paparan tikus liar di kawasan hutan dan pertanian. Kasus biasanya meningkat pada musim gugur ketika aktivitas pertanian lebih tinggi.
Sebagian besar pasien mengalami gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, gangguan ginjal, hingga perdarahan ringan. Pemerintah Korea Selatan juga rutin menjalankan edukasi pencegahan bagi kelompok berisiko seperti petani dan personel militer.
Indonesia
Indonesia termasuk negara Asia Tenggara dengan catatan paparan hantavirus yang cukup tinggi. Berdasarkan jurnal PLOS Neglected Tropical Diseases edisi 2026, prevalensi hantavirus pada mamalia kecil di Indonesia mencapai 17,49 persen dan menjadi salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara.
Virus ditemukan pada populasi tikus di kawasan padat penduduk, pasar tradisional, area pelabuhan, hingga lingkungan dengan sanitasi kurang baik. Tikus rumah dan tikus got menjadi hewan yang paling banyak terdeteksi membawa virus.
Selain itu, Indonesia juga melaporkan delapan kasus HFRS sepanjang 2025 yang tersebar di empat provinsi. Seluruh pasien dilaporkan sembuh setelah mendapatkan perawatan intensif.
Singapura
Singapura juga tercatat dalam penelitian internasional terkait hantavirus. Prevalensi hantavirus pada mamalia kecil di negara tersebut mencapai 10,53 persen dan termasuk tinggi di kawasan Asia Tenggara.
Temuan tersebut banyak berasal dari populasi tikus perkotaan di area pelabuhan, pusat distribusi logistik, hingga lingkungan dengan aktivitas manusia yang sangat padat.
Pemerintah Singapura diketahui memiliki sistem pengawasan tikus yang cukup ketat untuk mencegah penyebaran penyakit zoonosis di kawasan perkotaan.
Selain empat negara tersebut, sejumlah negara Asia lain seperti India, Thailand, dan Vietnam juga mulai meningkatkan kewaspadaan pasca munculnya klaster hantavirus internasional di kapal pesiar MV Hondius.
WHO menilai hantavirus belum menunjukkan pola penyebaran global seperti Covid-19. Namun, kemunculan klaster internasional membuat banyak negara mulai memperketat pengawasan terhadap paparan tikus pembawa virus, khususnya di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dan mobilitas internasional yang besar. (Admin/rilis)

Komentar