JEJAKABAR.COM – Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar 2026 yang digelar Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia tengah menjadi sorotan publik setelah video babak final tingkat Provinsi Kalimantan Barat viral di media sosial.
Peristiwa tersebut ramai diperbincangkan usai muncul dugaan ketidakadilan dalam penilaian dewan juri terhadap jawaban peserta dari dua regu berbeda yang dinilai memiliki jawaban serupa namun mendapat keputusan berbeda.
Dilansir dari AKURAT.CO, insiden itu terjadi pada babak final tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang mempertemukan tiga sekolah, yakni SMAN 1 Sanggau, SMAN 1 Sambas, dan SMAN 1 Pontianak.
Dalam sesi pertanyaan, juri memberikan soal terkait lembaga yang pertimbangannya wajib diperhatikan DPR dalam memilih anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Regu C dari SMAN 1 Pontianak kemudian menjawab, “Anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden.”
Namun, jawaban tersebut dinyatakan salah oleh salah satu juri sehingga regu C mendapat pengurangan lima poin.
Pertanyaan lalu dilempar ke regu lain. Regu B dari SMAN 1 Sambas memberikan jawaban yang dianggap netizen memiliki substansi serupa.
Kali ini, jawaban tersebut justru dinyatakan benar oleh dewan juri dan regu B memperoleh tambahan poin.
Keputusan itu memicu protes dari peserta SMAN 1 Pontianak. Mereka mempertanyakan alasan jawaban dianggap salah padahal dinilai memiliki isi yang sama.
Dewan juri kemudian menjelaskan bahwa jawaban regu C dianggap tidak menyebutkan “Dewan Perwakilan Daerah” dengan artikulasi yang cukup jelas sehingga tidak terdengar oleh juri.
Peserta bahkan sempat meminta pendapat penonton mengenai apakah penyebutan “DPD” terdengar dalam jawaban tersebut. Meski demikian, juri tetap mempertahankan keputusan awal dan menegaskan penilaian sepenuhnya menjadi kewenangan dewan juri.
Salah satu juri juga menyebut peserta sejak awal telah diingatkan mengenai pentingnya artikulasi saat menjawab pertanyaan.
Kontroversi ini semakin ramai karena dianggap memengaruhi hasil akhir lomba. Berdasarkan skor yang diumumkan, SMAN 1 Sanggau memperoleh 45 poin, SMAN 1 Sambas 90 poin, dan SMAN 1 Pontianak 70 poin.
Dalam sistem penilaian lomba, jawaban benar mendapat tambahan 10 poin, sementara jawaban salah dikurangi 5 poin.
Banyak netizen kemudian menghitung ulang kemungkinan hasil akhir apabila jawaban regu C dianggap benar. Dalam simulasi yang beredar, SMAN 1 Pontianak diperkirakan bisa memperoleh total 85 poin dan berpotensi menjadi juara wilayah.
Menanggapi polemik tersebut, Abcandra Muhammad Akbar Supratman menyampaikan permohonan maaf kepada publik dan para peserta lomba.
Ia menyebut pihak MPR RI akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem perlombaan, termasuk mekanisme penjurian dan aspek teknis lainnya.
Menurutnya, kejadian itu menjadi pelajaran penting agar pelaksanaan lomba ke depan lebih objektif, transparan, dan tidak menimbulkan polemik baru.
Selain sistem penilaian juri, evaluasi juga akan menyasar tata suara hingga mekanisme penyampaian keberatan atau banding dari peserta lomba. (Admin/rilis)

Komentar