Jejakabar.com, GORONTALO – Suasana diskusi berlangsung hangat di Hungrypedia Kaffe, Kota Gorontalo, pada Sabtu (5/9/2026). Sejumlah akademisi, mahasiswa, aktivis, wartawan, tokoh masyarakat, hingga warga umum berkumpul dalam forum bertajuk SUARA KAMPUS.
Forum tersebut hadir sebagai ruang bertukar pikiran guna membahas berbagai persoalan mendasar kehidupan masyarakat, pendidikan, budaya, hingga nilai-nilai yang tengah berkembang di Gorontalo.
Pada edisi perdana ini, SUARA KAMPUS mengusung tema “Eksistensi Nilai di Ujung Tanduk, Perspektif Pikiran Banding.”
Diskusi ini menghadirkan empat pemateri dari beragam latar belakang, yakni Prof. Dr. Lukman Laliyo, M.Pd., Dr. Andi Djufri, M.Ag., Nikson Entengo, S.IP., M.Si., Ahmad Abdullah, S.Ag., M.Pd.
Jalannya pertukaran gagasan dipandu oleh Dr. Sahmin Madinah, S.Sos., M.Si., yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor III UIN SMART. Diskusi berlangsung dinamis, memberi ruang terbuka bagi seluruh peserta untuk menyampaikan pandangan maupun kritik konstruktif.
Dr. Sahmin Madinah menegaskan bahwa SUARA KAMPUS tidak diposisikan sebagai agenda sekali jalan. Forum ini diproyeksikan menjadi kegiatan rutin mingguan.
“Kegiatan ini akan kita maksimalkan terus dan dilaksanakan setiap Sabtu di warkop ini, dengan pemateri dan tema yang akan berubah-ubah,” ujar Dr. Sahmin Madinah.
Untuk menjangkau khalayak yang lebih luas, jalannya kegiatan juga dipancarkan secara siaran langsung (live streaming), sehingga masyarakat yang berhalangan hadir tetap dapat menyimak diskusi secara interaktif.

Menurut Sahmin, ruang dialog terbuka seperti ini sangat krusial bagi daerah. Sebab, penyelesaian persoalan daerah tidak cukup hanya bertumpu pada kebijakan formal, tetapi juga membutuhkan kontribusi gagasan dari lintas elemen masyarakat, mulai dari akademisi, mahasiswa, aktivis, tokoh masyarakat, insan media, hingga warga umum.
Apresiasi senada disampaikan oleh salah satu pemateri, Ahmad Abdullah, S.Ag., M.Pd. Ia menilai SUARA KAMPUS memiliki potensi besar untuk tumbuh sebagai forum diskusi yang berkelanjutan.
Meski demikian, Ahmad memberi catatan agar pada edisi-edisi berikutnya, isu yang diangkat bisa dirancang lebih spesifik.
“Saya kira SUARA KAMPUS ini harus terus berjalan dan ke depannya temanya lebih terfokus. Semisal bahas tentang nilai budaya atau pendidikan,” usul Ahmad Abdullah.
Ia menambahkan, pembahasan dengan tema yang terarah akan mempertajam hasil analisis serta melahirkan gagasan konkrit yang bisa ditindaklanjuti.
Dihadiri oleh perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), media, akademisi, dan tokoh masyarakat, forum ini berhasil melebur batas-batas formalis. SUARA KAMPUS tidak hanya menjadi panggung akademis, tetapi juga tempat bertemunya beragam sudut pandang mengenai kondisi Gorontalo saat ini.
Forum ini diharapkan dapat menjadi ruang baru bagi masyarakat untuk membicarakan berbagai dinamika daerah secara terbuka. Terlebih, perawatan nilai-nilai budaya dan identitas lokal Gorontalo kian penting di tengah derasnya perubahan zaman.
Melalui diskusi berkala setiap pekan, SUARA KAMPUS berikhtiar menjadi jembatan antara gagasan akademis dan realitas masyarakat. Lebih dari sekadar tempat bertukar pandang, gerakan intelektual ini diharapkan terus konsisten melahirkan pemikiran nyata demi menjaga nilai, identitas, budaya, serta masa depan Gorontalo.
(RL-06)

Komentar