JEJAKABAR.COM-Pemandangan miris terjadi di ruas jalan Trans Sulawesi Gorontalo Utara, tepatnya di Desa Tomilito. Pasalnya beberapa truk pengangkut kayu melintas dengan kondisi angkutan terbuka tanpa adanya penutup, dan membahayakan pengguna jalan yang melintas.
Melihat kondisi tersebut salah satu warga Desa Tomilito Sandy Syafrudin Nina yang sempat berpapasan mendesak agar pihak perusahaan pengangkut kayu, pemerintah daerah, dan DPRD setempat untuk segera menertibkan iring-iringan truk bermuatan kayu yang dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Sandy mengatakan insiden itu terjadi pada Senin siang ketika deretan truk bermuatan kayu melintas dari arah desa menuju kawasan pabrik. Menurut Sandy, muatan bergelimpangan dan ditumpuk melebihi ukuran wajar sehingga tampak miring dan berisiko jatuh.
“Bukan hanya pelanggaran lalu lintas — ini teror psikologis. Muatan ‘obesitas’ seperti itu adalah judi dengan nyawa warga,” kata Sandy dalam pernyataannya kepada media.
Ia juga mengunggah rekaman visual ke media sosial sebagai bukti dan bentuk protes publik.
Dalam tuntutannya, Sandy menyorot tiga pihak. Pertama, ia meminta perusahaan pemilik armada untuk menghentikan praktik pengangkutan yang melanggar batas muatan dan menerapkan standar keselamatan. Kedua, ia menduga pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara lalai melakukan pengawasan di koridor lalu lintas yang rawan. Ketiga, ia meminta DPRD setempat menjalankan fungsi pengawasan terhadap praktik transportasi komoditas yang berpotensi membahayakan publik.
“Jalan raya adalah ruang hidup warga. Jangan sampai ada berita duka dulu baru kita sibuk saling menyalahkan,” tegas Sandy, menambahkan harapan agar aparat penegak hukum segera melakukan penertiban.
Praktik muatan berlebih dan pengikatan barang yang tidak sesuai standar kerap disebut meningkatkan risiko kecelakaan, terutama pada ruas jalan yang padat pemukiman. Para ahli keselamatan lalu lintas menyarankan penegakan aturan muatan, pemeriksaan berat kendaraan di pos timbang, serta sanksi tegas terhadap pelanggar untuk mengurangi potensi bahaya.
Warga di Tomilito itu mengatakan mereka mengandalkan dokumentasi visual dan penyebaran di media sosial untuk menarik perhatian publik dan pengambil kebijakan.
“Lensa kamera kami adalah mata pengawas yang tak pernah tidur,” tandas Sandy.
Melihat kondisi tersebut salah satu warga Desa Tomilito Sandy Syafrudin Nina yang sempat berpapasan mendesak agar pihak perusahaan pengangkut kayu, pemerintah daerah, dan DPRD setempat untuk segera menertibkan iring-iringan truk bermuatan kayu yang dinilai membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Sandy mengatakan insiden itu terjadi pada Senin siang ketika deretan truk bermuatan kayu melintas dari arah desa menuju kawasan pabrik. Menurut Sandy, muatan bergelimpangan dan ditumpuk melebihi ukuran wajar sehingga tampak miring dan berisiko jatuh.
“Bukan hanya pelanggaran lalu lintas — ini teror psikologis. Muatan ‘obesitas’ seperti itu adalah judi dengan nyawa warga,” kata Sandy dalam pernyataannya kepada media.
Ia juga mengunggah rekaman visual ke media sosial sebagai bukti dan bentuk protes publik.
Dalam tuntutannya, Sandy menyorot tiga pihak. Pertama, ia meminta perusahaan pemilik armada untuk menghentikan praktik pengangkutan yang melanggar batas muatan dan menerapkan standar keselamatan. Kedua, ia menduga pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara lalai melakukan pengawasan di koridor lalu lintas yang rawan. Ketiga, ia meminta DPRD setempat menjalankan fungsi pengawasan terhadap praktik transportasi komoditas yang berpotensi membahayakan publik.
“Jalan raya adalah ruang hidup warga. Jangan sampai ada berita duka dulu baru kita sibuk saling menyalahkan,” tegas Sandy, menambahkan harapan agar aparat penegak hukum segera melakukan penertiban.
Praktik muatan berlebih dan pengikatan barang yang tidak sesuai standar kerap disebut meningkatkan risiko kecelakaan, terutama pada ruas jalan yang padat pemukiman. Para ahli keselamatan lalu lintas menyarankan penegakan aturan muatan, pemeriksaan berat kendaraan di pos timbang, serta sanksi tegas terhadap pelanggar untuk mengurangi potensi bahaya.
Warga di Tomilito itu mengatakan mereka mengandalkan dokumentasi visual dan penyebaran di media sosial untuk menarik perhatian publik dan pengambil kebijakan.
“Lensa kamera kami adalah mata pengawas yang tak pernah tidur,” tandas Sandy.

Komentar