JejaKabar.com, Gorontalo – Sorot lampu panggung Aevolora Fest 2026 malam itu tidak hanya mengarah pada sang bintang tamu, tetapi juga menyinari sosok-sosok yang menjadi jembatan rasa bagi teman-teman disabilitas. Komunitas Rangkul Asa sukses menghadirkan layanan Juru Bahasa Isyarat (JBI) perdana dalam sejarah konser di Gorontalo, sebuah langkah berani yang digagas bersama angkatan SMA Negeri 3 Gorontalo dan Epic Events.
Triska Lukum, selaku Co-Founder Rangkul Asa sekaligus JBI yang bertugas malam itu, menceritakan betapa emosionalnya perjalanan menuju panggung tersebut. Ia mengaku sempat tidak percaya ketika pihak penyelenggara menyatakan komitmennya untuk membawa standar konser inklusi seperti di Jakarta ke tanah Gorontalo.
“Jujur, perasaan kami campur aduk. Ada rasa kaget sekaligus haru yang luar biasa saat pertama kali dihubungi untuk berkolaborasi. Bagi kami dan teman-teman Tuli di Gerkatin Gorontalo, ini adalah mimpi yang jadi nyata. Selama ini, konser musik sering dianggap sebagai dunia yang tertutup bagi mereka yang tidak mendengar, tapi malam itu tembok tersebut runtuh,” kenang Triska.
Bukan Sekadar Gerakan, Tapi “Menyanyi” dengan Jiwa Berdiri di hadapan ribuan penonton bukanlah hal mudah bagi tim JBI Rangkul Asa. Triska mengungkapkan bahwa rasa gugup sempat menyelimuti mereka saat melangkah ke bawah lampu sorot. Di bawah tatapan ribuan mata yang mungkin merasa asing dengan kehadiran mereka, para JBI harus tetap tenang untuk menyalurkan emosi setiap lagu.
“Fokus kami adalah teman-teman Tuli. Kami sadar posisi kami setara dengan penyanyi; jika mereka menggunakan pita suara, kami menggunakan kelenturan jemari dan ekspresi wajah. Kami ingin memastikan setiap nada dan lirik bisa ‘didengar’ oleh hati teman-teman Tuli,” tambah Triska.
Momen haru pun pecah ketika penyanyi Sal Priadi memberikan apresiasi khusus (notice) kepada tim JBI di atas panggung. Pengakuan dari sang artis seolah menjadi validasi atas kerja keras tim Rangkul Asa dalam menyambungkan getaran musik kepada mereka yang selama ini terpinggirkan dari hiruk-pikuk festival.
Harapan untuk Industri Hiburan Gorontalo Meski menyadari masih ada tantangan teknis dalam pelaksanaan perdana ini, Triska memberikan apresiasi setinggi-tingginya bagi panitia Aevolora Fest 2026 yang didominasi oleh anak muda Smantig. Baginya, keberanian mereka memulai inklusivitas adalah kemenangan besar bagi kemanusiaan di Gorontalo.
Ke depan, Triska Lukum berharap pengalaman bersama Sal Priadi dan grup band Perunggu ini menjadi standar baru. Ia menitipkan harapan agar konser selanjutnya dilengkapi fasilitas yang lebih mumpuni, seperti layar khusus JBI, penggunaan ear monitor untuk akurasi interpretasi, hingga sulih teks (subtitle) pada layar latar.
“Kami percaya musik adalah bahasa universal. Aevolora Fest 2026 telah membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk bersatu. Kami berharap ini bukan yang terakhir, melainkan awal dari masa depan di mana industri hiburan di Gorontalo benar-benar ramah untuk semua jiwa,” tutup Triska dengan optimis. (Admin/rilis)

Komentar