Jejakabar.com — Dewi Apriyani, seorang eks pegawai IT yang kini dikenal sebagai petani milenial, mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Setelah delapan tahun berkarier di bidang teknologi informasi, ia memilih meninggalkan dunia digital dan beralih ke sektor pertanian sebagai langkah menghadapi perubahan zaman serta tantangan masa depan.
Keputusan tersebut, menurut Dewi, bukan diambil secara tiba-tiba. Sebagai mantan pekerja di sektor teknologi, ia menilai perkembangan kecerdasan buatan (AI) akan membawa perubahan besar terhadap dunia kerja dan berpotensi menggantikan banyak peran manusia.
“Saya resign karena dirasa cukup. Karena ke depan, SDM IT secerdas apa pun bisa tergantikan oleh AI. Di tahun 2016, ini sudah jadi bahan diskusi di antara kami orang-orang IT. Tentang robot, AI, dan gelombang pengangguran,” ungkap Dewi Apriyani kepada Jejakabar.com.
Sebagai eks pegawai IT, Dewi mengaku pernah mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) sebanyak dua kali selama berkarier. Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa perubahan teknologi berlangsung sangat cepat dan menuntut adaptasi tinggi.
“Saya sendiri pernah mengalami PHK dua kali. Yang tidak mau berlari akan tertinggal. Saya sadar teknologi akan terus berubah, banyak yang akan tertinggal kalau tidak mau berlari kencang. Mengejar sesuatu yang cepat sekali berganti arah itu melelahkan,” ujar Ex Pegawai IT itu.

Berangkat dari pengalaman dan pengamatannya, Dewi memilih kembali ke sektor pertanian. Baginya, pangan dan air merupakan kebutuhan dasar manusia yang tidak akan tergantikan oleh teknologi.
“Maka saya memilih kembali ke tanah. Ke sesuatu yang nyata. Ke sesuatu yang selalu dibutuhkan manusia yaitu pangan, air, dan kehidupan. Ini bukan tentang menyerah pada teknologi. Ini tentang memilih pijakan yang lebih tenang untuk masa depan,” jelasnya.
Dewi menilai, meskipun teknologi dapat mempermudah kehidupan, manusia tetap tidak dapat hidup tanpa sumber daya alam. Ia bahkan meyakini bahwa sektor pertanian akan menjadi salah satu bidang strategis di masa depan.
“Teknologi bisa saja padam, manusia bisa hidup tanpa teknologi. Tapi manusia tidak bisa tanpa pangan dan air. Resign dari karier IT bukan berarti berhenti berkarya, melainkan memilih melihat dan menjemput peluang masa depan,” katanya.
Dewi juga menyoroti pentingnya kesiapan menghadapi tantangan global yang diperkirakan muncul di masa depan, termasuk isu krisis pangan dan perubahan sistem kerja akibat otomatisasi.
Menurutnya, di tengah perkembangan robot dan AI yang semakin pesat, ada aspek kehidupan yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.
“Di saat banyak pekerjaan manusia perlahan tergantikan oleh robot dan AI, ada satu hal yang tidak bisa digantikan yaitu alam. Alam tetap membutuhkan sentuhan tangan manusia, bukan sekadar algoritma,” tuturnya.
Ia menambahkan, potensi krisis global di masa depan seharusnya tidak disikapi dengan ketakutan, melainkan dengan persiapan yang matang.
“Krisis 2030 bukan untuk ditakuti. Dengan terbuka, kita bisa menerima informasi apa pun dengan persiapan, bukan kepanikan. Saat sistem terasa rapuh, maka kembali ke tanah adalah kekuatan manusia,” pungkasnya.
Keputusan Dewi Apriyani menjadi contoh bagaimana perubahan karier dapat dipandang sebagai strategi adaptasi menghadapi dinamika zaman, sekaligus menegaskan pentingnya sektor pangan sebagai fondasi kehidupan manusia. (Admin)

Komentar