LIMBOTO, Jejakabar.com – Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 tak hanya menjadi ajang pertukaran inovasi di sektor pertanian dan perikanan. Di balik ramainya ribuan peserta dari seluruh Indonesia, agenda nasional ini juga menjadi panggung besar untuk memperkenalkan identitas budaya dan pariwisata Gorontalo melalui kain Karawo.
Salah satu pelaku UMKM Karawo, Beta Meliansi, mengaku kehadiran PENAS XVII membawa dampak besar terhadap promosi produk Karawo yang selama ini dikenal sebagai warisan budaya khas Gorontalo.
Menurutnya, meski tujuan utama mengikuti pameran bukan sekadar mengejar penjualan, antusiasme pengunjung justru membuat permintaan terhadap produk Karawo meningkat tajam.
“Kalau ditanya keuntungan, saya justru lebih fokus pada promosi. Banyak peserta yang baru pertama kali mengenal Karawo. Mereka bertanya kenapa harganya lebih mahal dibanding kain daerah lain. Di situlah kami jelaskan bahwa Karawo dibuat sepenuhnya dengan tangan, mulai dari mencabut benang, membuat pola, hingga menyulam. Tidak ada proses menggunakan mesin,” ujar Beta kepada jejakabar.com saat diwawancarai, Senin (23/06/2026)
Ia mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan selama PENAS XVII, dirinya melibatkan sekitar 500 pengrajin Karawo. Meski seluruh pengrajin telah dikerahkan, permintaan pasar masih belum sepenuhnya dapat dipenuhi.
“Kurang lebih ada 500 pengrajin yang kami libatkan. Bahkan dengan jumlah itu pun masih kewalahan memenuhi permintaan,” katanya.

Bagi Beta, PENAS XVII menjadi kesempatan emas memperkenalkan Karawo sebagai salah satu ikon wisata budaya Gorontalo kepada ribuan tamu dari berbagai provinsi.
Melalui pameran tersebut, banyak peserta akhirnya memahami bahwa Karawo bukan sekadar kain, melainkan karya seni bernilai tinggi yang dikerjakan secara manual dan membutuhkan ketelitian tinggi.
Bahkan, sejumlah tamu dari luar daerah langsung mengunjungi galeri Karawo miliknya setelah melihat produk di arena pameran. Tidak sedikit pula yang melakukan pemesanan hingga dikirim ke luar daerah, termasuk Papua.
“Ada yang meminta Karawo dipadukan dengan motif Ecoprint Papua. Itu menunjukkan Karawo bisa berkolaborasi dengan budaya daerah lain dan memiliki peluang pasar yang luas,” jelasnya.
Lebih dari sekadar memperkenalkan budaya, Beta menilai perkembangan Karawo juga berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Ia mengaku sengaja tidak menentukan harga hasil kerja para pengrajin. Seluruh harga disesuaikan dengan nilai yang mereka ajukan agar manfaat ekonomi benar-benar dirasakan oleh para pembuat Karawo.
“Alhamdulillah, banyak pengrajin yang ekonominya meningkat. Ada yang dulu rumahnya sederhana sekarang sudah permanen. Ada yang sebelumnya belum punya kulkas sekarang bisa membeli kulkas. Bahkan ada yang mampu mencicil sepeda motor dari hasil membuat Karawo,” ungkapnya.
Selain memperluas pasar, Beta juga ingin mengubah pandangan masyarakat terhadap Karawo.
Selama ini Karawo kerap dianggap hanya cocok dikenakan kalangan pejabat atau orang tua. Padahal menurutnya, Karawo dapat dikembangkan menjadi busana modern yang diminati generasi muda.
Karena itu, ia lebih banyak menghadirkan desain kekinian yang dapat digunakan oleh berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga orang dewasa.
“Karawo harus menjadi milik semua orang. Saya ingin menghilangkan anggapan bahwa Karawo hanya untuk pejabat atau orang tua. Justru generasi muda harus bangga memakai Karawo,” ujarnya.
Beta mengapresiasi Pemerintah Provinsi Gorontalo yang telah memberikan ruang bagi UMKM Karawo untuk tampil dalam PENAS XVII.
Ia berharap promosi terhadap Karawo terus diperkuat karena dinilai memiliki potensi besar menjadi daya tarik wisata sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat.
“Terima kasih kepada pemerintah yang sudah memberi kesempatan UMKM tampil di PENAS. Harapan saya, promosi Karawo terus diperkuat. Tidak perlu langsung mendunia, cukup dikenal secara nasional terlebih dahulu. Kalau semakin banyak pesanan, maka semakin banyak pula pengrajin yang merasakan manfaat ekonominya,” pungkasnya.
Kehadiran ribuan peserta PENAS XVII pun menjadi momentum penting bagi Gorontalo untuk menunjukkan bahwa sektor pariwisata tidak hanya bertumpu pada destinasi alam, tetapi juga kekayaan budaya seperti Karawo yang mampu menjadi identitas daerah sekaligus penggerakkan ekonomi masyarakat. (Admin)

Komentar