JAKARTA, Jejakabar.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan pada perdagangan hari ini dan ambruk ke level 6.318. Kondisi tersebut menjadikan pasar modal Indonesia sebagai salah satu yang terburuk di kawasan Asia, di tengah mayoritas bursa regional yang justru relatif stabil bahkan menguat.
Dirilis dari Kompas.com, pelemahan IHSG terjadi saat tensi geopolitik di Timur Tengah mulai mereda dan sentimen investor global menunjukkan perbaikan. Bursa Eropa tercatat dibuka menghijau, sementara sejumlah indeks di kawasan Asia Pasifik bergerak stabil.
Namun, kondisi berbeda justru terjadi di pasar modal Indonesia. Pelemahan IHSG juga diikuti dengan anjloknya sejumlah saham emiten properti nasional.
Saham PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN), misalnya, turun dari Rp169 menjadi Rp162 per lembar saham. Sementara saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) melemah dari Rp306 menjadi Rp304.
PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) juga mengalami penurunan dari Rp118 menjadi Rp114 per saham.
Sejumlah saham emiten properti lain yang ikut terkoreksi di antaranya:
- Bumi Citra Permai (BCIP) turun 2,90 persen menjadi Rp68
- Sentul City (BKSL) turun 4,6 persen menjadi Rp83
- Bumi Serpong Damai (BSDE) turun 0,7 persen menjadi Rp710
- Duta Anggada Realty (DART) turun 7,25 persen menjadi Rp128
- Jababeka (KIJA) turun 4,29 persen menjadi Rp156
- Lippo Karawaci (LPKR) turun 3,9 persen menjadi Rp74
- Roda Vivatex (RDTX) turun 3,95 persen menjadi Rp14.000
- Urban Jakarta Propertindo (URBN) turun 3,74 persen menjadi Rp206
Meski mayoritas saham properti melemah, saham PT Ciputra Development Tbk (CTRA) justru berhasil menguat 3,05 persen dan menjadi salah satu emiten yang bertahan di zona hijau.
Pelemahan pasar saham juga dipengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah yang kembali tertekan hingga berada di level Rp17.706 per dolar AS.
Kondisi tersebut dinilai menjadi perhatian serius investor, terutama ketika pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan keluarnya dana asing dari pasar saham domestik.
Tekanan eksternal dan ketidakpastian global membuat pelaku pasar masih cenderung berhati-hati terhadap prospek investasi di pasar modal Indonesia dalam jangka pendek. (Admin/rilis)

Komentar