Rupiah Tembus Rp17.668 per Dolar AS, Sentimen Global dan Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu - jejakabar.com
Berita Utama Ekonomi
Beranda / Ekonomi / Rupiah Tembus Rp17.668 per Dolar AS, Sentimen Global dan Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu

Rupiah Tembus Rp17.668 per Dolar AS, Sentimen Global dan Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu

1768471259 4739x3331
Mata uang rupiah dan dolar AS (Berita Satu Photo/Joanito De Saojoao)

JAKARTA, Jejakabar.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Senin (18/5/2026). Pelemahan tersebut dipengaruhi berbagai sentimen global mulai dari penguatan dolar AS, inflasi energi, kebijakan suku bunga The Fed, hingga meningkatnya tensi geopolitik dunia.

Dirilis dari Beritasatu.com, berdasarkan data Bloomberg di pasar spot exchange, rupiah ditutup melemah 71 poin atau 0,4 persen ke level Rp17.668 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS tercatat turun tipis 0,07 persen ke level 99,21.

Di pasar perbankan, sejumlah bank nasional juga mencatat pergerakan kurs dolar AS yang bervariasi. Bank BCA menetapkan harga beli dolar AS sebesar Rp17.663 dan harga jual Rp17.683 berdasarkan e-rate. Sementara Bank Mandiri mencatat harga beli Rp17.655 dan harga jual Rp17.675 melalui special rate.

Adapun BNI menetapkan kurs beli dolar AS sebesar Rp17.610 dan kurs jual Rp17.710. Sedangkan di BRI, nilai tukar dolar AS berada pada kisaran Rp17.643 hingga Rp17.680.

Sebelumnya, pada perdagangan Rabu (13/5/2026), rupiah sempat menguat 53 poin dan berada di level Rp17.475 per dolar AS.

Gaji Ke-13 ASN 2026 Cair, Ini Empat Cara Bijak Mengelolanya untuk Pendidikan dan Investasi

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan tekanan terhadap rupiah dipicu oleh penguatan dolar AS yang didorong meningkatnya risiko inflasi akibat tingginya harga minyak dunia.

Menurutnya, kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, masih akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.

“Kenaikan harga energi menghambat proses disinflasi sehingga inflasi berpotensi menjauh dari target 2 persen The Fed dan memperpanjang kebijakan moneter ketat,” ujar Ibrahim.

Dari sisi geopolitik, pasar juga merespons meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah sejumlah insiden drone di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi memicu kekhawatiran eskalasi konflik.

Selain itu, pembicaraan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping disebut belum memberikan kepastian terkait meredanya tensi global.

Advokat Safrizal Walahe Soroti Ancaman Sebar Data Pribadi oleh Rentenir

Trump juga dikabarkan akan bertemu dengan penasihat keamanan nasional untuk membahas opsi militer terkait Iran. Di sisi lain, Amerika Serikat diketahui membiarkan berakhirnya pengecualian sanksi pembelian minyak Rusia oleh sejumlah negara.

Sementara dari dalam negeri, Ibrahim menilai pasar turut mencermati pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait dampak fluktuasi dolar AS yang disebut tidak terlalu dirasakan langsung oleh masyarakat daerah.

Menurut Prabowo, kondisi ekonomi nasional masih relatif stabil dengan sektor pangan dan energi yang tetap terjaga.

“Untuk perdagangan berikutnya, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.660 hingga Rp17.720 seiring masih kuatnya tekanan eksternal,” pungkas Ibrahim. (Admin/rilis)

Hadirkan Nuansa Tanah Suci di Balik Jeruji, Lapas Boalemo Gelar Manasik Haji untuk Warga Binaan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

×
×